Yang Mengusir Saya Dulu, Sekarang Masih Jualan Rokok
Di Perempatan jalan itu nampak beberapa pengamen duduk lesehan sambil menghitung recehan. Pandanganku lesu ketika melihat seorang balita yang diasuh orang tuanya. Lamunanku melayang ke anak-anak ku yang sedang menunggu di rumah.
“Saya dulu seperti mereka, pak”, ujar pak sopir Bluebird memecah lamunanku. Seakan tak percaya jika sopir yang sekarang mengantarkan aku ini dulu pernah jadi pejuang jalanan seperti mereka.
Pak Sopir kemudian nyerocos bercerita tentang lika liku kehidupannya. Beberapa tahun yang lalu, dia datang ke Jakarta mencoba peruntungannya dengan berjualan rokok di perempatan jalan. Panas hujan dia jalani, diusir preman dan pedagang “senior” adalah hal yang biasa. Jika diusir, dia segera mencari lokasi baru untuk mengasong. Selama mengasong dia ketemu banyak kenalan, yang akhirnya mempertemukan dia dengan juragan koran.
Kemudian dia beralih menjual koran, masih di perempatan. Sedikit demi sedikit uang hasil penjualan dikumpulkannya dan terbelilah sebuah sepeda motor. Hidupnya sedikit membaik. Nasib kemudian mempertemukannya dengan tukang kredit yang awam ditemui di kota-kota besar. Dari tukang kredit itu dia belajar bagaimana menjual barang kreditan, dan hal itu menarik minatnya untuk ikut mengadu nasib sebagai tukang kredit.
Sebagai modal dijuallah motor kesayangannya, dan mulailah dia berkeliling Jakarta untuk menjajakan barang kreditannya. Kali ini hasil keuntungan yang didapat lebih banyak daripada berjualan koran. Sebagian dikirimkan ke kampung halamannya, Garut, untuk biaya hidup keluarganya., sebagian lagi disimpannya dalam tabungan.
Seringnya berkeliling Jakarta, mempertemukan dia dengan teman-teman baru, salah satunya adalah kalangan sopir. Dia pun meminta untuk diajari mengemudi kendaraan besi roda empat ini. Sembari belajar, dia pun mengurus SIM sebagai salah satu syarat mengemudi kendaraan.
Setelah lancar mengemudi, dia memberanikan diri untuk melamar sebagai sopir di salah satu perusahaan taxi. Beberapa taxi pernah dicobanya, dan semakin menambah ketrampilannya dalam mengemudi dan melayani pelanggan. Tercatat sudah 5 perusahaan yang pernah dijalaninya. Saat ini dia tercatat sebagai pengemudi Bluebird selama 2 tahun lebih.
Suatu hari dia pernah mengemudi melewati perempatan jalan tempat dia mengasong beberapa tahun yang lalu. Dia melihat, pedagang “senior” yang dulu mengusirnya masih ada di sana dan masih berjualan rokok. Berbeda dengan dia yang sekarang sudah naik “jabatannya”.
Ketika saya tanya apakah tidak ingin pindah ke Garut dan berkumpul dengan keluarganya, dia menjawab “Kalau masih jadi sopir ya sama saja, kalau menjadi lebih baik ya saya mau, pak.”
Kembali saya merenung, sudahkah saya bertumbuh dan belajar untuk menjadi lebih baik? Bagaimana dengan anda?
June 14th, 2012 at 22:10
good artikel :),, maju trus,,,
June 14th, 2012 at 22:57
hidup itu memang penuh perjuangan ya..
June 15th, 2012 at 05:57
Saatnya merenung nih… Hari ini harus bisa lebih baik dari hari kemarin…
June 16th, 2012 at 10:21
tulisan yang sangat bagus mas. membuat kita merenung untuk tidak terus berjalan di tempat.
untuk dapat hidup kita harus terus “hidup”
October 8th, 2012 at 13:47
perjuangan bapak itu. mirip bgd dngan perjuangan saya..
dy memulai dari 0 .. beda’a dy tukang rokok. dan saya dulu sbgai pengamen jalanan. smbil sekolah sd.
pas tahun 2007. saya brhenti mengamen. dan di thun 2008 saya melanjut perjuangan sbagai tukang parkir rumah makan.. kbetulan di sebrang tmpat parkir saya itu. ada sbuah apartemen mediterania palace kemayoran jakpus. tepat sekali di bawah tower tinggi itu. ada pangkalan taksi.. dan saya berusaha untung mendekati supir” taksi itu dengan rokok samsu dan kopi hitam.
stelah saya mengenal smua supir dsitu. di thun 2009, saya minta ajarin bawa mobil dngan supir taksi itu. alhamdulilah. lulus.
di thun 2010. usia saya datang ke 17thun. dan saya pun langsung mengurus KTP dan sim. dan akhir’a saya melamar di sebuah perusahaan taksi berwarna putih .. saya senang sekali saya bisa naik jabatan jg. trimakasih yg allah.. sedih bila di ingat kembali ..