Pelanggan bukanlah mesin ATM
Tuesday, July 31st, 2012Ramadhan sudah dijalan, Lebaran sudah menanti. Ibarat bertanam, sekaranglah masanya panen, demikian sering kita mengistilahkan suasana saat ini. Beberapa penjual pun berlomba menaikkan harga. Coba tengok harga telor , daging dan sembako yang melangit. Pedagang daging ayam menjerit, apalagi pengusaha catering. Demikian pula pembuat kue kering juga terkena dampak kenaikan harga telor. Berita terakhir, Pembuat tahu dan tempe akan mogok membuat tahu dan tempe, karena harga bahan baku yang melangit. Nah, kalau sudah begini salah siapa?
Kapan lagi menangguk untung besar? demikian beberapa penjual berpikir. Moment yang satu kali setahun ini diharapkan bisa memberi keuntungan yang tinggi. Memang tidak ada yang salah dengan cara berpikir yang demikian. Saya ingat dengan keluhan teman yang mengeluhkan layanan dokter yang dengan mudah menarik tarif tinggi walaupun layanan yang diberikan cuma sekedar pemeriksaan ringan.
Pak Ustadz dalam khutbah tarawihnya beberapa malam lalu melontarkan celetukan tentang hal ini. “Pelanggan bukanlah mesin ATM, yang bisa dengan seenaknya ditarik uangnya untuk keuntungan kita”. Berikanlah harga yang sewajarnya dan sesuaikan dengan layanan yang kita berikan. Bukankah inti dari perdagangan adalah saling tolong menolong dan silaturahmi?
Bagaimana menurut anda?
Yup, demikianlah Steve Jobs mendefinisikan pasar untuk salah satu mahakarya Apple, yaitu iPod. Apple dengan jeli mendefinisikan pasar ini, dan memberikan solusi yang brilian. Dengan fokus pada pasar ini, Apple bisa membuat orang mengantri untuk mendapatkan produknya.
